Arsip Tag: movie

The Avengers (2012), IMAX, dan Penonton yang Ngamuk

The Avengers (2012), IMAX, dan Penonton yang Ngamuk
The Avengers (2012), IMAX, dan Penonton yang Ngamuk

Ada tiga kehebohan yang akan saya sampaikan dalam tulisan ini. Pertama, film The Avengers ini adalah proyek besar Marvel yang mempertemukan banyak superhero dan beberapa di antaranya sudah ada filmnya masing-masing. Dari Hulk, Thor, Captain America, dan Iron Man yang semuanya sukses dan punya banyak penggemar. Jadi film ini sudah bertahun-tahun ditunggu, dan setelah muncul trailernya maupun teaser di akhir masing-masing film superheronya, begitu akan masuk di Indonesia, sudah jelas digadang-gadang bakalan seru habis. Film yang konon menghabiskan dana lebih dari 2 trilyun rupiah ini sudah menghasilkan pemasukan 4x lipat hingga dipostingnya tulisan ini di seluruh dunia. Dana sebegitu besar didapat dari patungan tiga perusahaan film besar Marvel, Paramount Pictures, dan Albuquerque Studios. Film yang penuh dengan visual efek ini melibatkan 15 perusahaan pembuat spesial FX! Amazing gak?

Kehebohan yang kedua adalah, Avengers akan diputar berbarengan dengan perdananya theater IMAX di Gandaria City yang memutar film Holywood dengan kekuatan suara yang menghebohkan. Meski layarnya kalah besar dengan pendahulunya di Keong Mas Taman Mini, namun sound system dan proyektornya jauh lebih unggul, dan bisa memutar film 3D pula. Ukuran layarnya 20×11 meter, dengan gambar yang diklaim 60% lebih jernih dari layar bioskop biasa, dan 10x sound effect yang jauh lebih dahsyat. Dibandrol dengan tiga skema harga dari 50 ribu untuk Senin hingga Kamis, Jumat 75 ribu, dan 100 ribu di Sabtu Minggu, bioskop ini selalu laris manis, semua kursinya laku terjual.

Kehebohan yang ketiga adalah pada hari Senin pertama setelah Avengers tayang perdana di hari Jumat, saya membeli tiket via MTIX milik teman kantor. Sekitar jam 9 saya mendapat kursi di tengah deretan D. Best view nih. Beli dua tiket untuk saya sendiri bersama istri tercinta. Sudah janjian sebelum berangkat ke kantor mau ketemuan di Gandaria City setelah pulang kantor. Film mulai jam 18:15, tenggo dari kantor jam 17:40, ngojek ke Gandaria sampai jam 17:55, langsung sholat maghrib. Nonton boleh, tapi sholat gak boleh ditinggalkan. TIDAK ADA ALASAN APAPUN UNTUK TIDAK SHOLAT GARA-GARA NONTON. Ok, back to kehebohan ketiga. Selesai sholat istri masih berdiri di depan pintu tanpa diberi tiket yang sudah dipesan. Padahal sudah beli tadi pagi. Terbentuk antrian sekitar 30 menit, padahal sudah seharusnya film diputar. Ternyata eh ternyata, sistem MTIX tidak mengupdate database, sehingga kursi dijual kembali di antrian siangnya. GILAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! Untungnya penonton dengan MTIX dipersilakan untuk masuk dahulu dan duduk sesuai pesanan. Setiap ada yang mau datang dengan membawa tiket, saya bilang, langsung ke manajemen saja, katanya mau diurus. Saya dan penonton MTIX lain duduk sementara beberapa penonton marah dan berteriak. Ada yang bilang BAKAR.. BAKAAAR.. wah ini mah bego. Belum nonton IMAX mau dibakar. Yang beli tiket biasa ditawari refund MENOLAK! Sudah antri 3 jam disuruh pulang tidak mau. Yang MTIX juga MENOLAK. Sudah beli dari pagi kok. Akhirnya setelah 1 jaman bernegosiasi alot, diputuskan film tetap diputar, yang mau menonton tidak dapat kursi silakan duduk di tangga, namun tiket tetap direfund. Solusi yang seharusnya dari awal diambil.

Akhirnyaaaaa… begitu The Avengers menyapa, kita semua bertepuk tangan karena legaaaaa…

Sekarang kita ngomongin filmnya. 3Dnya meski hasil konversi tetapi tetap OK, dan tidak membuat pusing. Istri yang biasa pusing melihat film 3D di bioskop biasa dia bilang tidak mengalami hal yang sama. Suaranya menggelegar dan gambarnya jernih sekali. Dari sisi akting, Mark Rufallo yang menggantikan sohibnya sebagai Bruce Banner ternyata tidak mengecewakan. Apalagi Hulknya dibuat mirip sekali wajahnya dengannya. Namun, suaranya tetap disuarakan oleh Lou Ferrigno, yang dari dulu memang pernah memerankan Hulk dan selalu menjadi pengisi suara di berbagai film Hulk. Pembagian peran dari masing-masing superhero lumayan adil, namun memang Iron Man yang diperankan Robert Downey Jr sedikit lebih dominan.

Oh ya, buat Anda yang kabur setelah nonton, ada 2 ending di belakang yang tidak terlalu penting, namun yang paling akhir sangat hilarious. Yang pertama bisa dilihat di sini, yang kedua yang bikin ngakak bisa dilihat di sini.

Info menarik terkait dengan film ini:

  • Film ini menggunakan camera Arri Alexa, Paavision Primo dan lensa PCZ, Arriflex 435, lensa Panavision Primo, dan wow Canon EOS 5D Mark II!
  • Bertaburan bintang nominasi Oscar lhooo… (Robert Downey Jr., Gwyneth Paltrow, Samuel L. Jackson, Jeremy Renner, Mark Ruffalo, sutradara Joss Whedon, dan cinematographer Seamus McGarvey)

This slideshow requires JavaScript.

Skornya 9/10. Selamat menonton!

Modus Anomali (2012)

Modus Anomali (2012)
Modus Anomali (2012)

Film terbaru Joko Anwar ini membuatku penasaran. Setelah puas dengan besutannya di Pintu Terlarang, tentu saja aku tergerak untuk mencicipi karyanya yang paling gres. Iklannya ada di mana-mana, bahkan posternya dipasang di KRL Commuter Line yang aku naiki setiap hari.

Filmnya bercerita mengenai seorang lelaki yang bangun dari timbunan tanah di tengah hutan. Ia lupa akan jati dirinya dan berusaha mencari tahu siapa dia dan mengapa ia ada di sana. Satu demi satu petunjuk ia ikuti hingga akhirnya ia mengetahui siapa dirinya.

Filmnya tergolong suspense thriller, dengan pengambilan gambar yang shaky agar penonton diajak merasakan kepeningan si tokoh yang kebingungan di tengah hutan. Film yang idenya cukup cerdas ini bukannya tanpa anomali. Sebenarnya akan lebih baik kalau tidak ada telepon sama sekali dalam cerita ini. Adanya telepon justru menjadi plot hole yang bisa merusak cerita. Hal lain adalah penggunaan bahasa Inggris yang kurang luwes diucapkan para pemainnya. Dengan tampang Asia, semua pemainnya jadi terlihat kagok menggunakan Bahasa Inggris. Mungkin Joko mempersiapkan film ini di kancah dunia internasional agar tanpa perlu dibuat subtitlenya. Hasilnya justru kurang believable buat penonton Indonesia.

Idenya sekali lagi menarik, menyimpan twist di belakang, namun story tellingnya bisa dibuat lebih baik. Beberapa adegan di dalam gudang dan cara bercanda Marsha Timothy dan Surya Saputra kurang meyakinkan. Syuting yang cuma dua minggu seperti dikejar setoran. Pintu Terlarang jauh lebih meyakinkan dan membuat penasaran.

Buat saya 6/10, berasa sangat pendek, lumayan untuk tontonan alternatif.

Poster Modus Anomali

The Raid: Redemption (2011) aka Serbuan Maut

The Raid: Redemption (2011) aka Serbuan Maut
The Raid: Redemption (2011) aka Serbuan Maut

Setelah menggebrak dunia perfilman Indonesia dengan film Merantau, Gareth Evans kembali menyutradarai film laga yang brutal dan menghibur para penggemar film bergenre ini. Ceritanya berkisah mengenai sekelompok pasukan elit berjumlah 20 orang yang mencoba menangkap mafia sadis bernama Tama (Ray Sahetapy) di sebuah rumah susun kumuh berlantai 30. Tama dilindungi oleh banyak kriminal di sekitarnya yang rela mati melindunginya dari sergapan aparat. Tanpa diduga, aktor gaek Ray Sahetapy berhasil meyakinkan penonton dengan aktingnya sebagai boss mafia kejam. Pandangan mata dan cara berbicaranya yang sinis benar-benar menghibur penonton.

Kurangnya pengalaman pasukan yang dikirim dan tanpa adanya back up, membuat mereka kocar-kacir digempur para penjahat. Iko Uwais memerankan Rama, salah seorang anggota pasukan elit yang digambarkan taat beribadah, memiliki ketrampilan bela diri, dan hampir menjadi seorang ayah. Keikutsertaan Rama rupanya tidak hanya mengikuti perintah atasan, namun ada agenda lainnya. Berhasilkah pasukan elite ini menyeret sang mafia ke penjara? Ataukah mereka habis seperti pasukan-pasukan lain yang sebelumnya mencoba menyerang para kriminal itu?

Film yang berdurasi 101 menit ini sarat dengan darah dan adegan kekerasan dengan efek spesial yang halus dan realistis. Adegan perkelahiannya spektakuler dan mengundang decak kagum, apalagi semuanya diperankan oleh aktor Indonesia. Jangan bawa anak di bawah umur untuk menonton film ini karena terlalu keras. Salah satu tokoh antagonis yang memiliki ketrampilan laga yang hebat adalah Yayan Ruhian yang memerankan Mad Dog, tangan kanan Tama.

Dibiayai 1.1 juta dolar (hampir 10 miliar rupiah), film ini telah memenangkan berbagai penghargaan di antaranya adalah Audience Award, Dublin Film Critics Award, dan People’s Choice Award dalam dua festival berbeda, Dublin International Film Festival dan Toronto International Film Festival. Holywood juga turut membuat ulang film ini.

Jika Anda pecinta film laga dan tidak bermasalah dengan adegan brutal, film ini wajib ditonton. 8/10.

This slideshow requires JavaScript.

Umar bin Khattab R.A dan The Grey (2012)

Umar bin Khattab R.A dan The Grey (2012)
Umar bin Khattab R.A dan The Grey (2012)

Kalau Anda bertanya-tanya, apa hubungan antara Umar Bin Khattab R.A dengan film The Grey, izinkan saya menjelaskannya. (Saya berusaha tidak memberikan cerita terlalu detil sehingga bisa mengurangi kejutan bagi mereka yang ingin menonton film ini.) Jika dianggap sudah mengandung spoiler, mohon maaf sebesar-besarnya :)

The Grey mengisahkan seorang lelaki pemburu bayaran, yang dipekerjakan di industri minyak daerah Alaska, yang tugasnya membunuhi serigala yang mencoba masuk atau berada di sekitar area tersebut. Pemburu yang bernama Ottway itu diperankan dengan baik oleh Liam Neeson. Suatu ketika pada jadwal kepulangan untuk istirahat, pesawat yang ditumpangi Ottway dan beberapa koleganya terjatuh di daerah tak bertuan di tengah padang salju. Ottway mencoba menolong mereka yang masih hidup dan mereka sepakat untuk bersatu mencari jalan keluar sambil berlindung dari serangan serigala.

Jika Anda berpikir bahwa film ini hanya tentang survival belaka, Anda keliru. Bukan itu tujuan yang ingin disampaikan oleh Joe Carnahan selaku sutradara dan cowriter bersama Ian Mackenzie. Dari cara pengambilan gambar dan penuturan cerita yang terkadang kilas balik ke masa lalu Ottway yang menceritakan kehidupannya, kekasihnya, dan juga ayahnya, prinsip hidup Ottway tergambar dengan jelas – bahwa pentingnya hidup dalam kehidupan, sesuatu yang ironinya, nyaris ia langgar sebelum kecelakaan terjadi.

Film ini menegaskan tentang pastinya hidup menjelang ajal, sekaratul maut, dan kematian itu sendiri. Carnahan merasa bahwa pandangan hidup seseorang akan menentukan kualitas ketiganya. Mereka yang tak percaya Tuhan ketika dihadapkan oleh kebesaran alam, akan disentuh hatinya akan keberadaan Tuhan. Tidak mempercayai Tuhan sama saja merasa lebih hebat dari alam semesta dan merasa sakti karena membunuh Tuhan dalam pikiran maupun hidupnya.

Ketika seorang yang selamat tidak ingin menyelamatkan dirinya karena enggan merasa takut atau dikendalikan keadaan, itu menunjukkan bahwa dia pasrah namun tidak tawakal tanpa ikhtiar. Umar bin Khattab ketika ada ancaman musibah dia menghindar karena dia berpindah dari satu takdir ke takdir lainnya. Beliau memilih membatalkan rencana kunjungannya ke suatu negeri setelah mendapat kabar bahwa di negeri itu sedang mewabah suatu penyakit. Saat ditanya oleh seorang sahabat mengenai apakah keputusannya itu karena beliau takut menghadapi takdir Allah; Umar menjawab, “Tidak. Aku hanya berpindah dari satu takdir ke takdir-Nya yang lain.” Artinya dia berusaha untuk menghindari kematian dari satu hal ke takdir selanjutnya. Manusia pasti mati, dan tidak ada masalah dengan mati. Yang penting adalah apakah kita berjuang semampu kita untuk mempertahankan kehidupan sebagai pemberian dari Tuhan, hingga urusan di dunia ini selesai, atau menyerah begitu saja. Jika kita berada di padang pasir yang panas, berjalanlah atas nama Tuhanmu hingga air menjumpaimu atau kau menjumpai penciptamu. Dan ini digambarkan dalam puisi yang terngiang-ngiang dalam kepalanya ketika Ottway masih kecil di pangkuan ayahnya.

Once more into the fray
Into the last good fight I’ll ever know
Live and die on this day
Live and die on this day

This slideshow requires JavaScript.

Saya memberi nilai 8/10, beberapa adegan sangat realistis seperti jatuhnya pesawat, dinginnya lokasi kecelakaan, dan serangan serigala.

TIPS: Jangan tinggalkan tempat duduk Anda, hingga seluruh Ending Credit Title selesai ditampilkan. 2 menit terakhir adalah akhir cerita yang dipenggal, jangan dilewatkan.

Sang Penari (2011)

Sang Penari (2011)
Sang Penari (2011)

Film yang disutradarai Ifa Isfansyah (Harap Tenang Ada Ujian, Garuda di Dadaku) ini menceritakan tentang kisah cinta sepasang anak manusia yang bernama Srintil dan Rasus. Srintil diperankan oleh pendatang baru Prisia Nasution sedangkan Rasus diperankan oleh Oka Antara (Perempuan Berkalung Sorban, Hari untuk Amanda).

-Penggalan cerita berikut mungkin mengurangi kenikmatan Anda menonton filmnya. Silakan lewati jika ingin mendapatkan pengalaman menonton tanpa mengetahui garis besar ceritanya-

Dari kecil Srintil suka menari dan mengagumi ronggeng (penari yang dipercaya titisan roh nenek moyang yang memiliki kharisma dan kecantikan serta kepandaian untuk menari). Di Dukuh Paruk, tempat mereka tinggal, adanya ronggeng merupakan perwujudan penghormatan terhadap nenek moyang mereka, Eyang Secamanggala. Kuburannya jadi tempat sesembahan, sebuah praktek syirik yang masih melekat di tahun 1960-an. Setelah ayah Srintil membuat banyak warga desa mati – termasuk ronggeng yang ada saat itu – dengan tempe bongkreknya yang beracun, praktis Dukuh Paruk zonder ronggeng. Kedua orang tua Srintil yang juga mati setelah memakan bongkrek di depan warga desa yang marah, membuat Srintil menjadi yatim piatu. Praktis hidupnya bersama paman dan bibinya serta berteman akrab dengan Rasus. Menginjak dewasa, Srintil semakin bertekad ingin menjadi ronggeng. Ia ingin menebus dosa kedua orangtuanya yang menyebabkan banyak orang mati dengan menjadi ronggeng. Ronggeng dianggap mewakili kesuburan dan restu dari nenek moyang serta memberi kegembiraan dan kebahagiaan bagi penghuni desa. Tidak hanya menari, seorang ronggeng juga harus mau melayani lelaki manapun yang mau membayarnya dengan harga mahal, baik emas maupun bentuk lain misal hewan ternak. Para istri lelaki itu juga mendukung suaminya untuk meniduri ronggeng sebagai lambang prestige dan jaminan kesuburan dan kemakmuran bagi suaminya. Cita-cita Srintil menjadi ronggeng menjadi bumerang terhadap kisah kasihnya dengan Rasus. Tentu saja Rasus tidak ingin kekasihnya menjadi ronggeng, yang dia katakan seperti pohon kelapa, bisa dipanjat oleh setiap lelaki yang menginginkannya. Namun tekad Srintil menjadi ronggeng begitu kuat, sehingga Rasus menjadi prioritas kedua dalam hidupnya dan hatinya terbelah dua. Ronggeng atau Rasus. Rasus yang kecewa dengan pilihan Srintil yang enggan menghapus cita-citanya menjadi ronggeng membuatnya ingin bergabung dengan tentara. Cintanya tak pernah hilang, hatinya hanya untuk Srintil. Sementara Srintil, mencintai kehidupan ronggeng dan Rasus. Hingga akhirnya datang masa ketika PKI masuk ke desa-desa, termasuk Dukuh Paruk. Srintil dan banyak penduduk desa lainnya yang hanya ikut-ikutan diciduk oleh tentara.

Apakah Rasus berhasil membebaskan Srintil? Apakah mereka akhirnya dapat hidup bersama? Silakan tonton film ini yang cukup fresh, dan tidak mencoba mengekor film-film lokal yang terjebak dalam dunia supranatural dan selangkangan. Film ini bersetting di jaman PKI di daerah Banyumas, Jawa Tengah. Penggunaan bahasa lokal yang medok oleh Oka Antara, menurut saya cukup meyakinkan. Prisia Nasution yang lebih sering menggunakan kalimat lengkap berbahasa Indonesia justru mengganggu. Porsi bahasa ngapak-ngapak Oka lebih banyak dan cekoknya lumayan meyakinkan. Prisia kadang menggunakan bahasa Indonesia lengkap, yang jarang diucapkan oleh orang Tegal maupun dari daerah Purwokerto. Bahasa Indonesia terkadang digunakan, biasanya untuk menekankan suatu kata, seperti kita menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan. Seandainya porsi Srintil dalam pengucapan kalimat lebih banyak menggunakan bahasa Jawa, maka akan lebih meyakinkan.

Penggunaan kendaraan dan setting perumahan dikerjakan dengan cermat dan memberikan gambaran tahun 1960-an. Ifa dan kru patut diacungi jempol untuk hal ini. Keluguan Rasus dari belum menjadi tentara hingga bertambahnya kepercayaan dirinya juga diperankan dengan baik oleh Oka. Slamet Raharjo yang memerankan dukun ronggeng juga tampil total seperti biasa. Cengkok Melayunya yang dia gunakan di film-film berbudaya Sumatra, lebur dengan logat bahasa Jawa yang cukup meyakinkan.

Bila Anda penikmat film (atau pengguna bahasa ngapak-ngapak), maka Sang Penari akan memberikan nuansa baru yang berbeda dengan film-film lokal lainnya. Jika Ifa terus mendobrak dengan film-film berkualitas seperti ini, ia akan kutulis di hatiku mendampingi Joko Anwar yang menjadi favoritku dengan Pintu Terlarangnya.

Meskipun belum membaca trilogi novel aslinya yang ditulis oleh Ahmad Tohari, namun menonton film ini cukup puas dengan skor 8/10. Mungkin salah satu rahasianya adalah Salman Aristo yang menjadi salah satu penulis skenario yang mengadaptasi novel ini. Salman Aristo yang sukses dengan Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi rupanya menjadi salah satu faktor yang membuat film ini enak dinikmati.

This slideshow requires JavaScript.

Priben? Wis oh ditonton filme. Apik wis dijamin. Nyong ora goroh. Oh ya, aja nggawa bocah cilik nonton film kiye.Ora pantes ditonton daning cah cilik.

Real Steel (2011)

Real Steel (2011)
Real Steel (2011)
Real Steel

Real Steel

Real Steel adalah sebuah film fiksi ilmiah yang akan menghibur keluarga Anda. Inti dari film ini adalah hubungan ayah dengan anak yang sempat putus bertahun-tahun. Banyak yang bilang, film ini seperti gabungan film Rocky, Transformer, dan The Champ. Jadi ini bukan melulu film bak bik buk antarrobot kayak transformer. Robot adalah media hiburan untuk menunjang gagasan humanis tadi.

Charlie Kenton yang diperankan Hugh Jackman (XMen – Wolverine, Prestige, Australia) digambarkan sebagai seorang mantan petinju yang sekarang tergila-gila dengan bisnis tinju robot. Setelah berkurangnya penonton tinju antarmanusia, masyarakat kini lebih tertarik dengan tinju para robot. Suatu pagi ia dikejutkan dengan informasi bahwa ia ternyata memiliki seorang anak lelaki berusia 11 tahun dari hubungannya dengan seorang wanita di masa lalu. Anaknya yang bernama Max Kenton ini diperankan oleh pendatang cilik baru, Dakota Goyo. Hubungan antara Max dan Charlie pada awalnya kurang mulus karena sama-sama keras kepala. Seiring berjalannya waktu hubungan mereka berdua bertambah dekat karena disatukan oleh hobi yang sama – robot petarung. Di penghujung cerita ayah dan anak ini dihadapkan dengan robot super yang sudah menjagal banyak robot lainnya. Apakah robot milik mereka berhasil mengalahkan robot super itu? Silakan saksikan langsung filmnya.

Film ini diproduseri oleh Steven Spielberg yang menyukai dunia fiksi ilmiah, dari robot ala AI (Artificial Intelligence) sampai Alien (War of the World). Aktris pendukung kekasih Charlie diperankan aktris dari serial Lost yang terkenal, yaitu Evangeline Lilly. Film ini sengaja tidak diproduksi dalam format 3D dengan alasan untuk menonjolkan sisi humanisnya. Bukan pertarungannya. Jadi film ini cocok untuk keluarga, dan menurut saya lebih bagus ceritanya daripada Transformers yang hanya menyajikan pertarungan robot alien melawan manusia.

8/10, layak ditonton di bioskop.

X-Men First Class, Captain America, and The Rise of Planet of the Apes

X-Men First Class, Captain America, and The Rise of Planet of the Apes
X-Men First Class, Captain America, and The Rise of Planet of the Apes

Daripada aku posting ketiga film di atas dalam postingan terpisah, sepertinya sebaiknya aku gabung saja semuanya.

Dari ketiga film yang aku tonton di atas, yang paling rendah kepuasan dalam menontonnya adalah Captain America. Tidak jelek sekali, namun juga tidak istimewa. Terlihat dalam film bahwa aksi laga dalam film tersebut tidak digarap agar tampak wah. Semua dibuat biasa dan sederhana saja. Tampak jelas bahwa film yang panjang ini lebih banyak di porsi pendalaman karakter tokohnya. Diceritakan secara flashback, tonal film dan settingnya disesuaikan jaman dulu kala, dengan visual efek mengagumkan di mana Chris Evans digambarkan sangat kurus (dengan bantuan komputer) dan setelah dimasukkan ke mesin, ia menjadi bertubuh normal dan berdada bidang. Konflik yang sederhana menyebabkan film ini terasa kurang menggigit. Hal lain yang sedikit mengganggu, meski ini memang film fiksi, adalah teknologi yang digunakan oleh Nazi terlalu canggih di jamannya. Jadi efek believablenya sangat rendah. Saya memberinya 7 skala 10.

The Rise of Planet of the Apes, adalah prekuel dari film Planet of the Apes, yang menjelaskan mengapa ada simpanse yang bisa berbicara. Dimulai dari eksperimen pada simpanse, hingga simpanse bisa memecahkan teka-teki manusia, menulis, dan akhirnya bisa berbicara. Pendalaman karakter tokoh utama si Simpanse cukup baik, sehingga penonton mengenal dari kecil hingga dewasa perkembangan kecerdasannya. Aksi dan visual efek yang menarik menjadikan film ini wajib bagi mereka yang menyukai Planet of the Apes. 8 skala 10.

X-Men First Class, yang diproduseri oleh Bryan Singer yang menjadi sutradara dua cerita X-Men lainnya, benar-benar memuaskan untuk ditonton. Sebagai film prekuel film ini banyak menjelaskan awal kisah X-Men sebelumnya sambil mempertontonkan adegan laga yang menarik untuk dilihat. Sepanjang film saya bergumam oh gituu.. ketika benang merah tersambung antara film ini dengan film X-Men yang lain. This is definitely a must seen prequel movie for X-Men lovers. 9/10.

This slideshow requires JavaScript.

Source Code (2011)

Source Code (2011)
Source Code (2011)

Kali ini saya tidak akan membahas tentang Delphi Programming. Meskipun judulnya Source Code, tidak ada potongan program whatsoever yang akan dibahas di postingan kali ini. Source Code adalah sebuah film yang disutradarai oleh Duncan Jones, putra David Bowie. Duncan sebelumnya menyutradarai film fiksi ilmiah thriller yang sangat aku sukai yang berjudul Moon. Kali ini ia menggandeng Ben Ripley, jenius lulusan University of Southern California’s School of Cinema-Television, yang menulis ide cerita film ini. Okelah, sekarang kita bahas filmnya.

Versi tanpa Spoiler

Jake Gylenhaal memerankan Colter Stevens, seorang pilot Angkatan Udara Amerika yang bertugas di Kandahar, Afghanistan. Suatu pagi ia terbangun dari tidurnya dalam tubuh yang sama sekali asing dalam sebuah kereta yang berjalan.8 menit kemudian ia dan seluruh penumpang keretanya tewas karena aksi terorisme. Setelah meledak ia terbangun dalam sebuah ruangan sempit di mana ia menerima tugas melalui video, untuk mencari tahu siapa pelaku terorisme itu. Setiap ia kembali ke kereta, ia masih mengingat proses sebelumnya, sehingga ia semakin familiar dengan isi di kereta tersebut. Pertanyaannya, apakah ia dapat menemukan siapa pelaku aksi terorisme itu?

Versi dengan Spoiler (Jangan membaca jika belum menonton)

Ide ceritanya menarik. Namun mengandung hal yang tidak masuk akal yang sering disebut dengan plot hole. Jake Gylenhaal terbangun dalam realita ingatan 8 menit terakhir kehidupan Sean Fentress, korban aksi terorisme dalam kereta. Apa yang dilihat oleh Jake adalah Virtual Reality yang dikonstruksi oleh program. Plot hole terbesar adalah ketika Jake bisa pindah gerbong, bisa berkomunikasi dengan terorisnya, dan sebagainya. 8 menit terakhir hanyalah informasi visual dengan sedikit informasi audio korban dalam kereta api. Tanpa melakukan scanning isi otak semua penumpang, mustahil menyimulasikan atau mengetahui isi kepala terorisnya. Plot hole ini persis dengan film Blade Runner yang memotret sebuah foto dan dari fotonya bisa bergerak ke arah manapun.  Nah sebenarnya film bisa dipotong pada adegan ia berciuman dengan Christina (Michelle Monaghan), tanpa diteruskan mereka hidup bahagia berdua. Singkat cerita, setelah ia berhasil menemukan terorisnya, ia memohon agar ia tetap bisa mencoba 8 menit sisa hidupnya, agar ia mati membawa memori yang indah. Setelah adegan ciuman yang berhenti, tanda Jake telah mati, film kembali bergulir. Nah potongan film berikutnya, yang ini menurutku adalah imajinasi penulis ceritanya, salah satu alternatif kehidupan yang mungkin saja terjadi oleh sebab apapun.


Menarik, lumayan lah 8/10.

This slideshow requires JavaScript.


Stone (2010)

Stone (2010)
Stone (2010)

Dengan dibintangi oleh Robert deNiro dan Edward Norton, aku berharap filmnya minimal sekelas The Score, di mana deNiro dan Norton bermain bersama. Ini reuni yang gagal. Bukan karena akting mereka, tetapi kekuatan ceritanya yang lemah. Tempo lambat dengan ending yang tidak kuat. Benar-benar sia-sia talenta mereka dengan kekuatan cerita yang lemah.
Ceritanya Norton dipenjara dan sudah hampir selesai masa hukumannya. DeNiro berperan sebagai psikiater penjara yang bertugas menganalisis kejiwaan si napi apakah ia sudah bisa dilepas atau tidak. Ingin segera keluar, Norton meminta istrinya yang cantik di luar penjara (Mila Jovovich) untuk mempengaruhi DeNiro dalam membuat laporan. Cerita bertambah kompleks seiring jatuh hatinya Mila kepada DeNiro dan pengalaman spiritual Norton dan istri deNiro yang tambah membuat film ini tidak jelas mau dibawa ke mana.

5/10, totally boring.

Talenta yang Sia-sia

DeNiro dan Norton - Talenta yang Sia-sia