Arsip Bulanan: Januari 2012

Berlibur ke Ocean Park dan Pondok Kemangi

Berlibur ke Ocean Park dan Pondok Kemangi
Berlibur ke Ocean Park dan Pondok Kemangi

Sabtu, 29 Januari 2012 pagi, Rayyan memintaku untuk pergi berenang. Akhirnya kami sekeluarga memutuskan ke Ocean Park dan mengajak Mas Tatang (yang mengantar jemput Rayyan ke sekolah) bersama keluarganya, dan juga kedua asisten di rumah, Mbak Saroh dan Ibu Umar. Setelah berenang kami makan siang di Pondok Kemangi yang merupakan salah satu restoran favorit, setelah dCost Ocean Park dirasakan menurun kualitasnya.

Tips untuk Pondok Kemangi buat makanan yang menjadi favorit kami: Sup Gurame Asam Pedas.

Silakan dinikmati gambar-gambarnya :)

This slideshow requires JavaScript.

Jalan-jalan Malam Imlek di Alam Sutra BSD

Jalan-jalan Malam Imlek di Alam Sutra BSD
Jalan-jalan Malam Imlek di Alam Sutra BSD

Semalam kami berjalan-jalan ke Alam Sutra BSD, mencoba resto baru Rasane yang terletak dekat Living World. Restonya lumayan pricey, untung ketolong 30% diskon kartu kredit. Kepiting manise Jumbo lumayan juga. Setidaknya belum pernah kutemukan di resto manapun juga. Kepitingnya di bungkus daun pisang dan diasap. Rasa bumbunya manis. Udang pancet madunya sedikit di bawah Mang Engking Depok. Kangkungnya gede-gede dari Lombok. Dimasak trasi enak juga. Saranku jangan kesitu kalau gak pake diskon KK.

Setelah makan dan sholat di sana, kami jalan-jalan ke Living World dan Aila main perosotan di area bermain Ace Hardware. Seperti diduga, dia gak mau diajak pulang :)

This slideshow requires JavaScript.

Steve Jobs by Walter Isaacson

Steve Jobs by Walter Isaacson
Steve Jobs by Walter Isaacson

Buku biografi Steve Jobs ini sempat menggodaku pertama kali di toko buku, namun karena ketebalannya sempat menciutkan hatiku untuk membelinya. Akhirnya pada perjumpaan selanjutnya aku iseng membaca secara acak di tengah bukunya dan langsung jatuh hati. Bungkus!

Tebalnya 728 halaman, di luar 7 halaman tambahan foto-foto waktu Steve masih muda bersama keluarga, musuh besar, dan kompetitornya. Isinya menceritakan Steve dari lahir, diadopsi, bertemu dengan Steve Wosniak yang bersama-sama mendirikan Apple, menjadi milyarder di usia muda, berkolaborasi dengan Bill Gates untuk membuat aplikasi Office di Mac, murka karena Microsoft mencuri ide GUI dengan mmebuat Windows, dipecat dari perusahaannya sendiri oleh orang yang ia rekrut sendiri, membuat perusahaan baru dengan nama Next, Next dibeli kembali oleh Apple dan Steve menjadi CEO kembali, melejitkan nilai saham Apple, memperkenalkan iMac, iPod, iTunes Store, iPhone,  iPad, dan iCloud, di samping pada waktu yang sama memimpin Pixar, yang menghasilkan film-film berkualitas dan laku di pasaran.

Dijelaskan betapa secara makhluk sosial Steve Jobs benar-benar tidak mempedulikan perasaan orang lain, apakah akan membuat orang lain terluka atau tidak. Ia sangat perfeksionis, sehingga rancangan dari anak buahnya harus berkali-kali ditolak sebelum menjadi produk yang layak dilaunching ke pasar. Steve Jobs adalah manusia yang mempertemukan antara kecanggihan teknologi dengan seni dan kesempurnaan desain. Ia tidak bisa menerima pendekatan Microsoft yang menciptakan produk yang tidak sempurna namun laku keras di pasaran. Prinsip Steve Jobs, bukan jadi orang terkaya, tetapi menjadi orang yang bisa berinovasi dan menjadi trend setter teknologi yang menekankan kemudahan bagi pemakainya.

Membaca buku hasil kompilasi Walter Isaacson ini membuatku sulit meletakkan lama-lama buku ini. Aku membacanya sambil bergelantungan atau duduk di KRL, sambil membawa troley di supermarket, sambil naik ojek, sesaat sebelum tidur, dan bahkan sambil memanaskan mobil di parkiran. Dituturkan dengan kronologis dan runtut sehingga benar-benar enak dibaca. Walter mewawancarai Steve Jobs 40 kali dalam waktu 2 tahun penyusunan buku ini, lebih dari 100 anggota keluarga, sahabat, musuh, kolega, dan pesaing Steve. Steve bahkan tidak mau menggunakan hak bacanya sebelum buku ini terbit. Ia ingin buku ini tetap objektif dan bukan buku pesanan belaka. Dalam buku ini ia ditelanjangi habis-habisan, demikian juga dengan kolega maupun musuhnya.

Membaca buku ini adalah sebuah pengalaman luar biasa hasil dari kerja keras Walter dan pengalaman hidup Steve Jobs yang luar biasa. Seorang manusia yang mengubah wajah teknologi informasi dunia dan industri musik. Totally a must read book!

Rating 5/5.

This slideshow requires JavaScript.

Trans Studio Makassar

Trans Studio Makassar
Trans Studio Makassar

Beberapa waktu yang lalu saya mengambil cuti kantor untuk mencoba mengenal Makassar. Sebelumnya pernah transit dalam perjalanan ke Ambon di bandaranya saja. Jalan-jalan kali ini yang ingin saya tekankan hanya pada Trans Studio Makassar. Penasaran saja sebenarnya ingin melihat Trans Studi Makassar yang konon menghabiskan dana sekitar 3 triliun rupiah di atas tanah milik Kalla Group.

Sabtu pagi, setelah sarapan di hotel, saya berjalan kaki menuju Mal Panakkukang. Sayang waktu itu belum buka, jadi saya putuskan untuk naik taksi ke Trans Studio. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 25 menit dan saya langsung mencoba masuk ke Trans Studio. Tiket masuknya di hari kerja (Senin – Jumat) adalah 100 ribu rupiah sedangkan pada akhir pekan adalah 150 ribu per orang. Karena menggunakan smart card, maka jika belum pernah membelinya diharuskan membeli kartu yang berlaku seumur hidup dan kena biaya tambahan 10 ribu rupiah. Sebenarnya kita bisa saja di akhir pekan membayar 100 ribu rupiah, namun tidak bisa mencicipi 6 wahana unggulan. Padahal 6 wahana unggulan ini yang paling layak untuk dikunjungi. Saya yang tadinya hanya membayar 100 ribu jadi terpaksa menambah 5o ribu lagi, karena yang ingin saya coba justru 6 wahana itu. Satu-satunya wahana unggulan yang tidak bisa saya coba hanyalah Dragon Tower, yang mirip dengan Histeria di Dufan, karena berat badan saya melebihi kapasitas yang diperbolehkan. (Ehm.. cukup, jangan dibahas ya).

Konsep theme park Trans Studio dirancang oleh Goddard Group- perusahaan dunia hiburan yang basisnya di Los Angeles, yang telah punya pengalaman merancang wahana atraksi terkenal sepertiUniversal Studios dan Six Flags. Kebetulan saya sudah pernah mengunjungi Universal Studios di Los Angeles dan Six Flags di Texas beberapa tahun silam. Jalan-jalannya mengingatkan saya waktu di California dulu.

Wahana yang tersedia dengan tarif murah adalah:

  • Trans City Theater
  • Studio Tour
  • Hollywood Bumper Car
  • Grand Esia Studio View
  • Putar Petir
  • Rimba Express
  • Sepeda Terbang
  • Si Bolang
  • Safari Track
  • Esia Karosel
  • Baloon House
  • Ayun Ombak
  • Angin Beliung
  • Kano Kali dan
  • Mini Boom Boom Car

Sedangkan yang unggulan dan harus Anda atau anak Anda coba adalah:

  • Bioskop 4D
  • Jelajah
  • Dunia Lain
  • Dragon’s Tower
  • Magic Thunder Coaster dan
  • Kid’s Studio

Bioskop 4D waktu itu memutar The Haunted House yang menceritakan seekor kucing yang memasuki rumah berhantu. Spesial efeknya mengagumkan dan ceritanya juga menarik. Bioskop yang merupakan Dynamic Motion Simulator dengan kacamata 3D ini benar-benar layak dicoba.

Jelajah mirip dengan Niagara-gara di Dufan, namun tingkat kecuramannya hanya separuhnya saja. Dufan masih lebih menantang.

Dunia Lain mirip dengan Istana Boneka namun alih-alih dihibur alunan musik riang dan boneka lucu, Dunia Lain menawarkan suasana suram, gelap, dan penuh dengan hantu ala Indonesia. Yang menyukai dunia gaib akan menyukai wahana ini.

Magic Thunder Coaster mirip dengan Halilintar di Dufan, lagi-lagi tidak semenantang di Dufan.

Kalau menurut pendapat saya, Trans Studio cocok untuk usia 6 – 20 tahun. Usia 6 – 15 tahun akan menikmati wahana yang ada, sementara 16 – 20 tahun akan memanfaatkan kesuraman wahana yang ada untuk berpacaran :) . Buat yang di bawah 6 tahun hanya sedikit yang bisa dinikmati, dan di atas 20 tahun ke sana hanya karena penasaran.

Tips untuk pergi ke Trans Studio:

1. Akan lebih menguntungkan kalau punya Kartu Kredit Bank Mega. Banyak tempat makan memberi diskon besar dengan kartu kredit Bank Mega

2. Lebih banyak yang datang akan lebih memudahkan memasuki wahana yang membutuhkan kuota pengunjung sebelum mulai, macam Bioskop 4D dan Trans City Theatre

3. Untuk menghemat, kenyangkan perut Anda sebelum masuk wahana :) Di dalam ada resto, tentu saja lebih mahal dan pilihannya tidak banyak. Untungnya Trans Studio ada di dalam mal dan banyak sekali resto di sana, seperti Solaria dan Leko (Iga Penyet).

4. Pagi ke Trans Studio, Sore ke Somba Opu, mendekati senja ke Pantai Losari. Satu hari dapat maksimal di sana!

Jalan-jalan di Makasar lumayan lebar dan kotanya mengingatkan saya pada Tegal. Makanan utamanya sea food, Coto, Pallu Basa, dan konro. Pallu Basa sebenarnya seperti Coto, hanya saja mangkuknya lebih besar, ditambah serundeng, dan menggunakan nasi. Coto biasanya mangkuknya kecil dan menggunakan lontong atau buras. Selain Trans Studio, kita juga bisa jalan-jalan ke pantai Losari dan dekat dengan pusat oleh-oleh di Jalan Somba Opu. Pastikan mampir ke Somba Opu untuk mencari oleh-oleh, seperti otak-otak yang mantap mentong rasanya, dan minyak tawon yang super hangat!

Oh ya, Makassar sudah menuju seperti Jakarta. Pengendara motornya lumayan nekad, juga bentor alias Becak Montor, motor yang dimodifikasi agar roda depannya diganti becak. Ada yang full music menyetel musik jedak jeduk. Mal banyak, dengan Ramayana, Bioskop XXI, Bodyshop, Ace Hardware, dsb.

Jika belum pernah ke sana, cobalah suatu waktu, karena Makassar merupakan salah satu tujuan wisata Indonesia yang unik! Kalau penasaran dengan Trans Studio dan Anda tinggal di Jawa, maka Anda akan lebih dekat ke Trans Studio Bandung yang konon kata penjaga di Makassar lebih besar, karena saya sendiri belum pernah ke Trans Studio Bandung. Tarifnya beda 50 ribu lebih mahal daripada yang di Makassar.

Selamat berwisata!

This slideshow requires JavaScript.