Lovely Cikurai Mountain

Petualangan ke Pemandian Air Panas Puncak Darajat – Garut

Kali ini kami ingin mengunjungi Pemandian Air Panas Puncak Darajat yang terletak di Garut. Dari Serpong perjalanan sekitar 260 km. Kami berangkat jam 8 pagi dan sampai di Garut sekitar jam makan siang. Sesampai di Nagreg, hasil pencarian di Internet merekomendasikan Nasi Liwet Abah Strawberry. Begitu melihat restonya di pinggir jalan, kami langsung mampir. Tempatnya asyik. Ada permainan anak-anak berupa mendayung di antara dangau-dangau, ATV, dsb. Sangat asri dan menarik untuk dilihat.

Tips makan di sini:

- Menu paketnya itu isinya banyak banget. Nggak pesan tambahan sudah cukup sebenarnya.
– Sambal yang enak adalah sambal dadak. Sambal terasinya agak kemanisan.
– Nasi Liwetnya enak banget. Recommended.

Setelah makan kami mampir di Masjid Iqra tidak jauh dari situ. Ada kolam terapi kaki dari ikan Nilam. Geli-geli sedap gitu deh rasanya.

Terapi Ikan

Terapi Ikan

Dengan bantuan Google Maps, mencari Puncak Darajat di kata kuncinya bisa membawa kami ke sana dengan cepat dan tanpa tersesat.

Img4

Sampai di sana kami tinggal meminta kunci kamar yang sudah dipesan satu hari sebelumnya, dengan tarif 500 ribu per malam. Kami mendapat kamar tipe 1 untuk 4 orang, dengan 1 tempat tidur single bed. Untung saja kami membawa kasur pompa sehingga kami berempat bisa tidur dengan lapang :)

Begitu sampai sore harinya, kami langsung berenang. Makan di sana tidak sulit karena ada restoran hotel yang harganya juga tidak terlalu mahal. Kalau membawa kompor portable lumayan juga bisa menghemat untuk memasak indomie atau membakar sosis. Karena menginap di area pemandian, saya berendam air panas lagi jam 12 malam. Udara dingin dikalahkan oleh hangatnya air :) Asyik sekali.

Ada beberapa pemandian air panas di sekitar sini sebenarnya, misal Awit dan Darajat Pass. Puncak Darajat ini yang paling tinggi dan wahana airnya paling banyak. Pemandangannya juga superb.

 

Menjelang check out, kami sempat foto-foto di bawah kolam yang paling bawah, dengan berlatar belakang pemandangan yang indah. Jelas ingin sekali kembali ke tempat yang indah ini. Harga kamar yang 500 ribu rupiah per malam cukup terjangkau, apalagi berada di tengah-tengah kolam, sehingga kami bisa berenang kapan saja.

Buat pecinta Hot Waterboom, Puncak Darajat bisa menjadi alternatif kalau bosan ke Guci di Jawa Tengah. Guci lebih banyak villa dan makanan di sekitar tempat wisata. Kualitas water park sedikit lebih bagus di Puncak Darajat. Kolam lebih luas di Guci. Keunggulan Puncak Darajat adalah di slidingnya yang juara. Guciku memiliki flying fox yang masuk ke dalam air. Kolam lebih luas sehingga tidak terlalu penuh sesak ketika banyak pengunjung.

Mencari oleh-oleh di Garut cukup mudah. Ada chocodot (coklat yang ada dodol di dalamnya), coklat dengan bijih kopi yang renyah, dorokdok atau krupuk kulit, dodol aneka rasa, dsb. Intinya Garut cukup lovely untuk dikunjungi, karena suhu udaranya yang sejuk.

Wish List wisata lainnya (di luar umroh/haji):

- Green Canyon
– Pangandaran
– Gunung Papandayan
– Dieng
– Bromo
– Grojogan Sewu di Tawangmangu
– Borobudur
– Bali
– Malang
– Senggigi di Lombok
– dst…

Selamat berwisata!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Puncaknya

Hot Waterboom Guciku di TegalI

Mudik tahun ini sangat berkesan buat anak-anak. Liburan ke Tegal kali ini kami menginap di Guci, dan menikmati mandi air panas di Hot Waterboom Guciku yang belum ada satu tahun diresmikan. Tiket masuknya 25 ribu rupiah, yang biasanya hanya dibandrol 20 ribu di luar lebaran. Ada tiga kolam besar yang berbeda ketinggian dan semuanya dialiri air panas dari sumber alam di kaki Gunung Slamet. Dulu sebelum ada tempat wisata ini, Guci punya tempat pemandian air panas gratis di dekat air terjun, dan ada kolam renang air panas Sosro yang memiliki dua kolam air panas. Yang sosro ini sebelumnya jadi favorit, namun setelah Guciku dilaunching, Sosro mulai tergeser posisinya di hati para pengunjung Guci.

Jika ingin membaca wisata kuliner di Tegal dan pengalaman saya camping di Guci dan melihat pemandian air panas Guci yang gratis bisa dilihat di sini. Jika ingin melihat semua postingan Tegal baik tentang pantai maupun air terjun dan kuliner minuman dinginnya, lihat lebih lengkap di sini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ok, tertarik?

Berikut ini adalah info yang mungkin bermanfaat untuk Anda.

1. Di mana sih Guci itu? Lewat Pantura hanya 346 km dari Jakarta.

Alternatif ke Guci dari Jakarta

Alternatif ke Guci dari Jakarta

2. Berapa sih tarif masuk Guciku dan penginapan di dalamnya?

Tarif Guciku

Tarif Guciku

Kalau tidak mau menginap di dalam Guciku, berapa sih tarif menginap di luar Guciku? Penginapan ada hotel dan villa. Villa 1 rumah ada yang berisi 3 kamar, kamar mandi di dalam, ruang tamu, dan dapur, hanya 700 ribu rupiah di hari lebaran. Di luar itu bisa lebih murah.

3. Berapa harga makanan di sekitar Guciku?

-Nasi goreng sekitar 10 – 15 ribu rupiah per porsi.
-Sate kambing sekitar 60 – 70 ribu sekodi (20 tusuk).
-Sate ayam dengan lontong 10 bijinya sekitar 15-25 rb, sate kelinci 20-30 ribu

4. Apa boleh bawa makanan ke area Guciku? Boleh!

5. Apa bisa menginap dengan tenda? Bisa!

6. Selain Guci, wisata apalagi yang ada di Tegal? Ada pantai. Baca di sini. Ada theme park kayak di Dufan, namanya Rita Park. Lokasi di belakang Rita Mall.

7. Kalau mau kuliner khas Tegal, apa saja sih pilihannya?

Wah kuliner di Tegal banyak. Ini rekomendasi dari saya:

1. Sate ayam Farad Sidjan. Lokasi di depan Stasiun Tegal
2. Warung Makan Moro Tresno di Pasar Senggol, dekat Alun-alun / Masjid Agung Tegal (ada sauto – soto pakai  tauco, nasi lengko, nasi gule, sop buntut, dan asem-asem, dan sate kambing –> One stop shopping, cocok kalau sebentar di Tegal. Satu warung banyak pilihan kuliner)3. Kupat Glabed, yang enak ada di dekat Masjid Agung atau di dekat Sate Ayam Farad Sidjan, di depan Stasiun Tegal, atau di Randu Gunting
4. Sauto Amir, di daerah Tegal Wangi, Kab. Tegal
5. Sate Kambing Muda, di daerah Tirus, Putra Tirus atau Sari Mendo
6. Es Sagwan, di Jalan AR Hakim

8. Hotel di Kota Tegal? Yang direkomendasikan adalah Bahari Inn atau Karlita Hotel.

9. Apa saja sih oleh-oleh khas Tegal?

-Laktopia, mirip bakpia, cari di Jalan Veteran, atau daerah Paweden
-Kacang bogares dan pilus
-Krupuk anthor
-Telur asin (nggak cuma Brebes yang punya telor asin)
-Bawang merah ukuran besar (di Guci)
-Tahu Aci
-Teh tubruk 2 Tang

10. Ada nggak sih kamus bahasa Tegal? Ada. Coba cek di sini dan di sini.

Selamat berwisata!

Pak Jokowi, Kami Memilih Bapak, tapi….

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb..

Pak Jokowi, izinkanlah saya menuliskan sebuah tulisan yang terinspirasi dari tulisan Ustad Salim A. Fillah,  yang tulisannya bisa dibaca di sini.  Mengapa saya menulis tulisan yang sumbernya dari kubu Pak Prabowo, semata-mata karena ada banyak nasehat yang bagus  yang sangat baik dan sebenarnya tepat buat muslim siapapun yang akan memimpin Indonesia, sehingga sebagian tulisan  beliau saya kutip dan saya gabungkan dengan perasaan saya kepada Bapak dalam tulisan ini. Ada juga tulisan beliau  yang saya juga keberatan, saya bahas juga di surat ini.

Terus terang, keislaman saya tidak ada apa-apanya dibandingkan Ustad Salim. Jadi mohon maaf sebesar-besarnya, bila saya yang imannya masih seujung kuku ini berani-beraninya menulis tauziah kepada Pak Jokowi, yang sudah naik haji.
Apa alasan saya yang dengan lancangnya menulis tulisan ini?
1. ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan  saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).
2. Salah satu sifat Bapak yang saya sukai adalah Bapak mendengarkan rakyatnya. Karena itu saya berani bicara lewat  tulisan ini, dengan harapan Bapak sudi mendengar dengan membaca tulisan ini.

Bicara masalah haji, saya sendiri belum diberi kesempatan pergi ke Mekah, masih menabung menunggu lunas di salah satu bank Syariah  agar dapat jatah berangkat menjadi tamu Allah SWT. Ketika lunas nanti pun, tidak tahu tahun berapa bisa berangkat.  Saya berharap bila nanti cicilan haji saya sudah lunas dan Bapak yang terpilih menjadi Presiden RI,  Bapak bisa memberantas mafia haji dan Al Quran, sehingga tidak ada lagi:
1. Kitab suci dikorupsi
2. Kasus keracunan makanan di Mekah
3. Penyelewengan dana umat
4. Kuota haji diprioritaskan bagi pejabat dan keluarganya, namun rakyat diharuskan mengantri. Ayah saya yang sudah saya tabungkan hajinya,  sudah keburu meninggal dunia dipanggil Allah SWT sebelum bisa berangkat. Bapak bisa bayangkan perasaan kami dan keluarga, terutama Ibu saya  yang berharap bisa berhaji berdua, kini hilang harapan itu. Saya yakin kalau manajemen haji dibereskan, kuota haji  yang ada akan diberikan secara adil kepada seluruh rakyat, dan tidak hanya memprioritaskan pejabat saja atau yang berharta banyak. Nantinya  untuk berangkat haji tidak perlu menunggu terlalu lama. Haji diprioritaskan bagi yang belum pernah ke Mekah,  kemudian yang pernah umroh tapi belum pernah berhaji, baru kalau sudah tidak ada lagi yang belum pernah berhaji maka  dipersilakan bagi mereka yang ingin mengulang. Toh berhaji itu minimal sekali karena kewajiban telah ditunaikan.

Semoga tulisan ini berkenan di hati Bapak karena simpati saya terhadap Pak Jokowi, sebagaimana Ustad Salim simpati kepada Pak Prabowo.

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi sungguh orang yang jauh lebih mulia daripada kita semua, Abu Bakr Ash Shiddiq, pernah mengatakan, “Saya telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah.”

Maka yang kami harapkan pertama kali dari Bapak, Pak Jokowi, adalah sebuah kesadaran bahwa Bapak bukan pahlawan tunggal dalam masa depan negeri ini. Barangkali memang pendukung Bapak ada yang menganggap Bapak lah orang terbaik. Tetapi sebagian yang lain hanya menganggap Bapak adalah sosok yang sedang tepat untuk saat ini. Sebagian yang lainnya lagi menganggap Bapak adalah “yang lebih ringan di antara dua mudharat”.

Sebagian rekan-rekan saya yang memilih Pak Prabowo keberatan dengan koalisi yang mengusung Bapak, salah satunya PDIP, yang dianggap mudharatnya tidak bisa dimaafkan. Hal-hal yang tidak dapat dimaafkan itu adalah:
1.  Masalah penghapusan kolom agama di KTP
Pertama, sebenarnya bukan hanya kubu Pak Jokowi yang mendukung penghapusan kolom agama di KTP seperti yang bisa kita baca di  http://www.sayangi.com/politik1/read/24370/bila-terpilih-jokowi-akan-hapus-kolom-agama-di-ktp
namun Rachel Maryam dan Pak Basuki, keduanya dari Gerindra (partai Pak Prabowo), juga setuju dengan penghapusan ini.  http://metro.sindonews.com/read/817789/31/penghapusan-kolom-agama-di-ktp-jangan-dipermasalahkan
Jadi seharusnya Ustad Salim dan pendukung Pak Prabowo tidak semata-mata mengatakan hanya Bapak dan Pak Kalla yang setuju dengan  penghapusan ini.

Bagaimana menurut pendapat saya? Kalau saya lihat di Internet, alasan penghapusan kolom agama di KTP itu karena banyak orang  mendapatkan diskriminasi ketika melamar pekerjaan. Orang tidak jadi diterima begitu ketahuan di KTP agamanya beda dengan yang merekrut.
Sesungguhnya hal ini tidak masuk akal, karena meskipun kolom agama dihapuskan, kalau memang majikannya rasis,
diskriminasi tetap akan terjadi. Saya berikan dua contoh:
1. Anak saya yang bernama Muhammad Rayyan Ramadhan tetap akan dianggap muslim, meski kolom agama KTPnya kosong. Kalau dia melamar  ke perusahaan yang bossnya rasis, dengan melirik nama saja sudah akan ditolak. Terbukti mengosongkan kolom agama tidak efektif  untuk menghilangkan diskriminasi.
2. Nama lengkap saya adalah Harso Ricto Murwoko Hiksma Wisnu Widiarta. Kenapa kok bisa panjang begitu? Tiga kata di depan pemberian  kakek dari Ibu saya, tiga kata di belakangnya diberikan oleh guru ayah saya. Harso Ricto Murwoko itu nama yang Jawa banget, seperti  halnya nama Bapak, Joko Widodo. Bapak saking Solo, inyong wong Tegal. Kalau Wisnu Widiarta itu seperti nama orang Hindu.  Kebetulan beberapa orang menganggap wajah saya mirip keturunan Tionghoa, meskipun saya Jawa asli. Jika saya melamar pekerjaan yang majikannya tidak suka agama Islam, maka pada waktu wawancara saya aman. Ah ini pasti orang Cina blasteran Jawa Bali. Gak mungkin  muslim. Apakah dengan menghilangkan kolom agama Islam di KTP lantas saya aman dari diskriminasi? Tidak, Pak. Hari pertama saja sudah ketahuan saya itu muslim. Pas meeting jam 15:30, saya minta izin untuk sholat Ashar kepada boss saya. Pak, saya izin sholat dulu. Mau ashar. In shaa Allah saya segera kembali setelah sholat. Nah, hari kedua saya bisa langsung dipecat dengan alasan mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan kantor. Terbukti penghapusan kolom agama untuk menghindari diskriminasi di tempat kerja,  tidak efektif.
Sekarang kita bahas, mengapa saya mau kolom agama tetap ada di KTP:
1. Saya bangga dan bersyukur agama saya Islam. Saya bangga menjadi seorang muslim. Saya tidak ada masalah mencantumkan identitas saya  sebagai seorang muslim. Saya tidak takut terkena diskriminasi dalam tempat kerja, karena yang memberi rezeki itu Allah SWT.  Ditolak di satu kantor, bukanlah kiamat. Masih banyak yang mau menerima saya sebagai seorang muslim di tempat kerja.
2. Bapak bayangkan kalau saya misalnya pergi ke sebuah daerah, misalnya ke Manado. Seandainya di sana saya mendapat musibah lalu  meninggal dunia di perjalanan, masyarakat setempat yang menemukan saya waktu akan menguburkan saya pasti akan mencari  informasi di KTP agama saya apa. Kalau agama saya Islam ya saya minta dimakamkan secara muslim.  Buat orang lain yang meninggalnya dikremasi, ya pasti pengen dikremasi. Bayangkan ketika kolom agama dihapus, bisa-bisa saya  dikremasi karena saya dianggap orang Tionghoa.
3. Waktu saya mau menikah dulu, mertua saya yang muslim tentu hanya mau menikahkan anaknya dengan sesama muslim. Nah mereka bisa tahu  segera dengan melihat KTP saya. (Sebenarnya tidak perlu juga. Wong mau masuk saja bilang Assalamu ‘alaikum, hehehe).
4. Agama dalam KTP bisa mengingatkan saya untuk menjaga integritas saya sebagai seorang muslim. Saya tidak mau dianggap agama saya  ISLAM KTP. Artinya, agama ngakunya Islam, tapi kewajiban dalam Islam tidak dipenuhi. Dengan melihat identitas di KTP ini, saya  bisa selalu diingatkan, bahwa saya itu muslim, maka menjadilah muslim yang baik.

Ok, sekarang saya punya usulan jalan tengah. Jangan hapuskan kolom agama di KTP, tapi dibuat opsional saja.
Artinya buat yang mau menuliskan agamanya apa, silakan ditulis di Kelurahan. Yang takut kena diskriminasi, pas waktu ngurus KTP,  bisa minta dikosongkan. Dengan demikian, yang ingin mencantumkan agamanya tetap senang, yang tidak mau juga senang.  Bagaimana pendapat Bapak?

Hal lain sebenarnya seperti kolom tanggal lahir bisa menimbulkan diskriminasi usia. Kolom jenis kelamin bisa menimbulkan  diskriminasi gender. Ada lho Pak orang yang cowok atau cewek gak bisa dibedakan kecuali telanjang. Nah dia bisa menghilangkan kolom gender  demi membebaskan diri dari diskriminasi gender. Terus seperti yang tadi saya sebut masalah nama anak saya. Kalau  namanya bisa mengidentifikasi muslim, dia bisa minta kolom nama dihapus karena bisa ketahuan agamanya apa.  Jadi sebenarnya yang perlu dihilangkan bukan kolom di KTP Pak. Tapi diskriminasinya. Bisa habis nanti kolom KTP dihapusin semua.  Bagaimana pendapat Bapak?

2.  Mengenai Perda Syariah. Saya tidak mengerti mengapa penolakan terhadap Perda Syariah dibebankan menjadi dosa dengan memilih Pak Jokowi  dan Pak Kalla. Mari kita kesampingkan terlebih dahulu apakah Perda Syariah itu bisa diterapkan atau tidak. Jika ada orang PDIP  menolak keras Perda Syariah, maka sebenarnya mungkin saja ada dari partai koalisi Pak Prabowo yang juga tidak setuju.  Perda Syariah sebenarnya kan produk legislatif. Artinya, belum tentu juga saudara kita dari PKS, PKB, dan lainnya akan setuju dengan  pendapat PDIP. Negara kita sudah ada aturannya, bahwa tim legislatif yang akan menentukan apakah Perda Syariah bisa diterapkan atau  tidak. Perda Syariah sunggulah kompleks. Saya sebagai muslim tidak masalah kalau Syariat Islam akan diterapkan di Indonesia sekalipun.
Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang nonmuslim? Apakah mereka harus tunduk aturan yang sama atau tidak? Berlakunya nanti  di semua propinsi atau sebagian saja? Isi Perda Syariah itu apa saja sih?
Sungguh banyak pertanyaan mengenai Perda Syariah ini, namun tergesa-gesa mengkafirkan tim Pak Jokowi dan Pak Kalla hanya gara-gara ini  sesungguhnya kurang tepat. Baik tidaknya Perda Syariah dan bisa tidaknya diterapkan selain di Aceh, kita serahkan saja pada tim  DPR/MPR yang harus membahasnya secara adil dan memikirkan kemaslahatan seluruh Rakyat Indonesia. PDIP bukan mayoritas, semua punya hak yang sama dalam membahas undang-undang ini secara adil.

3.  Pernikahan sejenis. Ini juga undang-undang yang harusnya diproduksi oleh DPR/MPR. PDIP bukanlah mayoritas. Berbeda dengan kasus Perda Syariah, pernikahan sejenis sebaiknya juga dilarang. Pernikahan sejenis itu tidak natural. Jika dilegalkan bisa memusnahkan umat manusia. Coba kalau semuanya lesbian atau homoseksual. Mana ada manusia yang akan terlahir? Karena kita diciptakan lelaki  dan perempuan untuk berpasang-pasangan melahirkan keturunan. (Hewan saja mengerti). Menurut saya, Bapak jadi Presiden atau tidak,  mohon disampaikan kepada rekan-rekan PDIP bahwa lebih penting memberikan hukuman yang super berat kepada koruptor ketimbang  memikirkan undang-undang yang zalim ini. Sekali lagi, saya heran mengapa ada orang PDIP setuju pernikahan sejenis terus  Bapak yang jadi korban? Kebetulan saja memang Bapak diusung oleh PDIP. Jadi Bapak dianggap akan sama dengan PDIP atau disetir oleh
PDIP. Saya percaya Bapak yang muslim akan ingat ayat Quran berikut:

Allah berfirman : Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” [QS Al-A’raf:80-84].

Allah menggambarkan Azab yang menimpa kaum nabi Luth : “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” [Hud : 82-83]

Bahkan jika saya tidak salah kutip di Internet, dalam agama Kristen juga dilarang.

Dalam Perjanjian Baru, Roma 1:26-27, Rasul Paulus mengingatkan, bahwa praktik homoseksual adalah sebagian dari bentuk kebejatan moral dunia kafir, dari mana orang-orang kristen sebenarnya telah dibebaskan dan disucikan oleh Kristus.

Dalam Imamat 20:13 berbunyi : ”Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri”. Yang melakukannya diancam dengan hukuman mati.

Saya tahu Pak Jokowi dan Pak Kalla bukan yang menentukan undang-undang ini, namun Bapak berdua bisa memanfaatkan kharisma Bapak  untuk menyampaikan masukan kepada tim legislatif. Saya juga tahu tidak mungkin DPR/MPR meloloskan undang-undang ini, kecuali  Indonesia mau kiamat kena azab Allah SWT. Sekali lagi, saya heran kenapa ada orang nyleneh mengusulkan hal ini, lalu  dosanya ditimpakan kepada Bapak. Ini seperti Pak Jokowi numpang mobil orang lain dari Solo ke Jakarta, ada penumpang yang merokok,  Pak Jokowi yang disalahkan hanya karena satu mobil. Ini tidak adil. Memang banyak teman saya yang menyayangkan mengapa Bapak salah naik mobil. Teman saya bilang, kalau Bapak naik mobil PKS, mereka akan langsung memilih. Hehehe.. padahal semua mobil setahu saya ada masalahnya. Ada yang bau sapi, ada yang bau lumpur, ada yang bau bangunan olah raga, dst. Memang sulit naik mobil jaman sekarang  kalau tidak naik mobil sendiri. Tapi apa daya, syarat ke Istana sekarang harus naik mobil, ya Pak?

4.  Pengalaman masa lalu penjualan aset-aset bangsa. Saya juga bingung kenapa Bapak yang disalahkan. Lha wong bukan Bapak yang  menjualnya. Urusan saat ini adalah bagaimana kita sebagai negara memiliki banyak aset, termasuk kekayaan alamnya. Setahu saya  Bapak berjanji untuk membereskan korupsi, meningkatkan ekspor, dan mengurangi impor. In shaa Allah dengan hal ini, aset kita  yang dilepas lambat laun bisa kita ambil kembali. Man jadda wa jada. Optimis!

5.  Mengenai pencabutan tata izin pendirian rumah ibadah, lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga purna-prajurit yang  tangannya berlumuran darah ummat, saya tidak tahu yang dimaksud Ustad Salim itu detailnya bagaimana, tapi saya tetap tidak mengerti mengapa Bapak yang jadi korbannya. Kalau masalah undang-undang, sudah ada yang mengurusnya. Intinya kalau UUnya ngawur pasti tidak  akan lolos di DPR/MPR, kecuali semuanya ngawur. Kalau mengenai purna prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat, bagaimana  dengan pihak Pak Prabowo? Dulu Pak Amien Rais kan mendesak agar Pak Prabowo disidang agar jelas siapa yang salah pas kasus 1998. Sekali lagi, ini juga salah alamat kalau ditujukan kepada Bapak, karena Bapak punya track record welas asih di Solo, mengutamakan dialog,  dan tidak pernah menculik orang lain – entah korbannya hidup atau mati.
Bapak lebih suka dialog dan makan siang ketimbang pakai kekerasan. BTW, saya kepengen banget makan siang sama Bapak.  Saya yang traktir deh Pak. Saya sebenarnya juga kepengen makan siang sama Pak Prabowo, tapi terus terang saya takut. Kalau sama Bapak saya tidak takut. Bapak bisa menjadi ayah angkat saya karena ayah saya sudah meninggal.
Saya butuh belajar banyak dengan Bapak mengenai teknik komunikasi tanpa emosi. Itu ilmu yang sulit loh Pak.
Saya mau kursus sama Bapak. Oh ya, kalau Bapak butuh bantuan teknologi informasi, saya kebetulan lulusan dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Jadi kalau Bapak butuh masukan tentang IT dari saya, silakan hubungi saya Pak. In shaa Allah, jika itu  untuk Bangsa Indonesia, saya akan GRATISKAN. Saya akan sedekahkan ilmu saya untuk negara Indonesia. Saya ingin turun tangan,  bukan urun angan (seperti kata Pak Anis Baswedan). Sekedar informasi, saya suka membuat aplikasi gratis buat masyarakat Indonesia. Sudah ada aplikasi yang saya buat, lalu saya sedekahkan gratis di Internet. Pertama aplikasi SISURAT (Sistem Informasi Persuratan), alhamdulillah sudah didownload ratusan kali, dulu saya buat untuk membantu istri saya di kantornya di Departemen Pendidikan Nasional, tapi tidak jadi dipakai istri saya akhirnya saya taruh di Internet. Saya juga membuat aplikasi Posyandu gratis yang sudah diunduh  ratusan kali di seluruh Indonesia. Saya ingin memberikan sesuatu buat bangsa sebagai amal ibadah saya. Kalau saya meninggal kelak,
saya berharap saya masih dapat pahalanya dari sedekah ilmu. Nah untuk membangun Bangsa Indonesia, jika Bapak butuh masukan tentang  IT, Bapak bisa dapat konsultasi gratis dari saya. Saya tidak janji bisa selesai dalam waktu 2 minggu ya Pak, kita mesti bahas speknya  dulu. Karena saya takut kalau speknya luas, bisa jadi 2 minggu terlalu singkat. Kan software itu setidaknya harus melalui tahap:
1. Pembahasan ruang lingkup project
2. Perancangan teknis sistemnya (arsitektur, diagram alur, algoritma, basisdata, dst)
3. Pengembangan aplikasinya (programming dan unit testing)
4. Validasi program (System Integration Test dan User Acceptance Test)
5. Perbaikan kesalahan program
6. Uji coba program (piloting)
7. Implementasi
8. Evaluasi dan pengawasan
9. Manajemen Pengubahan (pengembangan ke versi berikutnya, penyempurnaan, perbaikan bugs, dsb)
Kebetulan saya pengalaman jadi Project Manager sekitar 10 tahun. Kalau Bapak kan pengalaman blusukan dan komunikasi.  Saya yakin banyak yang mau membantu Bapak di bidangnya masing-masing untuk
mewujudukan Indonesia Hebat, Indonesia Bermartabat, Indonesia Cerdas, Indonesia Berakhlak Mulia, dan Indonesia Merdeka.  Acara Gerak Cepat dan konser GBK adalah salah satu bentuk niat kami untuk bekerja bersama-sama dengan Bapak membenahi Indonesia.  Bismillah, man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh, in shaa Allah akan mendapatkannya.

Kembali kepada rencana Bapak menjadi Presiden RI…

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi sungguh orang yang jauh lebih perkasa daripada kita semua, ‘Umar ibn Al Khaththab, pernah mengatakan, “Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik di antara kalian dalam memimpin kalian, orang yang terkuat bagi kalian dalam melayani keperluan-keperluan kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya sudi menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan.”

Maka yang kami harapkan berikutnya dari Bapak, adalah sebuah cita-cita yang menyala untuk menjadi pelayan bagi rakyat Indonesia.  Sebuah tekad besar, yang memang selama ini sudah kami lihat dari penghargaan dan track record Bapak. Dan sungguh, kami berharap, ia diikuti kegentaran dalam hati, seperti ‘Umar, tentang beratnya tanggungjawab kelak ketika seperempat milyar manusia Indonesia ini berdiri di hadapan pengadilan Allah untuk menjadi penggugat dan Bapak adalah terdakwa tunggal bila tidak amanah, sedangkan entah ada atau tidak yang sudi jadi pembela.

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi orang yang jauh lebih dermawan daripada kita semua, ‘Utsman ibn ‘Affan, pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi; yaitu agar aku mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumku dalam hal-hal yang telah kalian sepakati sebagai kebaikan, membuat kebiasaan baru yang lebih baik lagi layak bagi ahli kebajikan, dan mencegah diriku bertindak atas kalian, kecuali dalam hal-hal yang kalian sendiri menyebabkannya.”

Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.

Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah Maqashid Asy Syari’ah (tujuan diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini. Lima hal itu; pertama adalah Hifzhud Diin (Menjaga Agama) yang disederhanakan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa) yang diejawantahkan dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ketiga Hifzhun Nasl (Menjaga Kelangsungan) yang diringkas dalam sila Persatuan Indonesia. Keempat Hifzhul ‘Aql (Menjaga Akal) yang diwujudkan dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dan kelima, Hifzhul Maal (Menjaga Kekayaan) yang diterjemahkan dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pak Jokowi, seperti ‘Utsman, jadilah pemimpin pelaksana ungkapan yang amat dikenal di kalangan Nahdlatul ‘Ulama, “Al Muhafazhatu ‘Alal Qadimish Shalih, wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah.. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi orang yang lebih zuhud daripada kita semua, ‘Ali ibn Abi Thalib, pernah mengatakan, “Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya dia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang mengajari orang lain.”

Pak Jokowi, hal yang paling hilang dari bangsa ini selama beberapa dasawarsa yang kita lalui adalah keteladanan para pemimpin. Kami semua rindu pada perilaku-perilaku luhur terpuji yang mengiringi tingginya kedudukan. Kami tahu setiap manusia punya keterbatasan, pun juga Bapak. Tapi percayalah, satu tindakan adil seorang pemimpin bisa memberi rasa aman pada berjuta hati, satu ucapan jujur seorang pemimpin bisa memberi ketenangan pada berjuta jiwa, satu gaya hidup sederhana seorang pemimpin bisa menggerakkan berjuta manusia.

Pak Jokowi, kami memilih Bapak sebab kami tahu, kendali sebuah bangsa takkan dapat dihela oleh satu sosok saja. Maka kami menyeksamai sesiapa yang ada bersama Bapak. Lihatlah betapa banyak ‘Ulama yang tegak mendukung dan tunduk mendoakan Bapak. Balaslah dengan penghormatan pada ilmu dan nasehat mereka. Lihatlah betapa banyak kaum cendikia yang berdiri memilih Bapak, tanpa bayaran teguh membela. Lihatlah kaum muda, bahkan para mahasiswa.

Didiklah diri Bapak, belajarlah dari mereka; hingga Bapak kelak menjelma apa yang disampaikan Nabi, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian mencintainya dan dia mencintai kalian. Yang kalian doakan dan dia mendoakan kalian.”

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi orang yang lebih adil daripada kita semua, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, pernah mengatakan, “Saudara-saudara, barangsiapa menyertai kami maka silahkan menyertai kami dengan lima syarat, jika tidak maka silahkan meninggalkan kami; yakni, menyampaikan kepada kami keperluan orang-orang yang tidak dapat menyampaikannya, membantu kami atas kebaikan dengan upayanya, menunjuki kami dari kebaikan kepada apa yang kami tidak dapat menuju kepadanya, dan jangan menggunjingkan rakyat di hadapan kami, serta jangan membuat-buat hal yang tidak berguna.”

Sungguh karena pidato pertamanya ini para penyair pemuja dan pejabat penjilat menghilang dari sisi ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, lalu tinggallah bersamanya para ‘ulama, cendikia, dan para zuhud. Bersama merekalah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz mewujudkan pemerintahan yang keadilannya dirasakan di segala penjuru, sampai serigalapun enggan memangsa domba. Pak Jokowi, sekali lagi, kami memilih Bapak bukan semata karena diri pribadi Bapak. Maka pilihlah untuk membantu urusan Bapak nanti, orang-orang yang akan meringankan hisab Bapak di akhirat.

Tapi kalaupun Bapak tidak terpilih, kami yakin, pengabdian tidak harus menjadi Presiden. Tetaplah bekerja untuk Jakarta dengan segala yang Bapak bisa, sejauh yang Bapak mampu, bersama Pak Ahok, meskipun akan sulit kalau Pak Prabowo yang jadi Presiden :) Bapak bisa mati gaya.
Tapi niatkan ibadah ya Pak. Tidak jadi Presiden, yang penting bisa menginspirasikan Rakyat Indonesia untuk berubah. Untuk berhijrah.  Untuk melakukan revolusi mental. Mental korupsi menjadi mental amanah. Kalau Bapak kembali jadi Gubernur, tawaran saya untuk membangun  Jakarta melalui IT secara gratis, tetap berlaku Pak. Adalah suatu kehormatan buat saya bisa bekerja untuk negara bersama Bapak.  Bersama Pak Anis Baswedan. Bersama Pak Jusuf Kalla. Kami rindu memeras otak dan keringat buat negara bersama orang-orang hebat seperti Bapak.  Orang-orang yang ikhlas dikuyo-kuyo. Orang yang tabah difitnah dan dizalimi. Ayuk Pak, kita bangun bangsa ini. Dari Istana atau Balikota.
Tidak masalah banyak digagalkan oleh mentri dan kepala pemerintahan daerah lain. Tugas kita adalah menyempurnakan ikhtiar.  Allah SWT yang akan mencatat semua amal perbuatan kita, berhasil atau gagal. Mari kita ikhlaskan demi negara.

Sungguh Bapak terpilih ataupun tidak, kami sama was-wasnya. Bahkan mungkin, rasa-rasanya, lebih was-was jika Bapak terpilih. Kami tidak tahu hal yang gaib. Kami tidak tahu yang disembunyikan oleh hati. Kami tidak tahu masa depan. Kami hanya memilih Bapak berdasarkan pandangan lahiriyah yang sering tertipu, disertai istikharah kami yang sepertinya kurang bermutu.

Mungkin jika Bapak terpilih nanti, urusan kami tak selesai sampai di situ. Bahkan kami juga akan makin sibuk. Sibuk mendoakan Bapak. Sibuk mengingatkan Bapak tentang janji Bapak. Sibuk memberi masukan demi kemaslahatan. Sibuk meluruskan Bapak jika bengkok. Sibuk menuntut Bapak jika berkelit. Jika perlu kami akan turun ke jalan, menurunkan Bapak dari kursi kepresidenan, jika Bapak yang sudah duduk, lupa berdiri.  Lupa blusukan. Lupa melakukan revolusi mental, tapi malah revolusi gagal.

Inilah kami. Kami memilih Bapak, Pak Jokowi, tapi sebagai penutup tulisan ini, mari mengenang ketika Khalifah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz meminta nasehat kepada Imam Hasan Al Bashri terkait amanah yang baru diembannya. Maka Sang Imam menulis sebuah surat ringkas. Pesan yang disampaikannya, ingin juga kami sampaikan pada Bapak, Pak Jokowi.
Bunyi nasehat itu adalah, “Amma bakdu. Durhakailah hawa nafsumu! Wassalam.”

Mengapa Saya Memilih Jokowi?

wisnuwidiarta:

Analisis dari Pak Faisal Basri. Semoga bermanfaat.

Originally posted on faisalbasri01:

Setelah mencermati perjalanan panjang perekonomian Indonesia, muncul perasaan gamang. Perekonomian Indonesia kerap terantuk, bahkan terhempas. Penyebabnya lebih banyak dari dalam diri kita sendiri (internal). Faktor eksternal tentu saja juga beberapa kali jadi pemicu, namun tak seberapa dibandingkan dengan faktor internal.

visi-01

Saya semakin yakin penyebabnya adalah faktor institusi sebagaimana diutarakan Acemoglu dan Robinson dalam bukunya “Why Nations Fail.” Indonesia masih berkutat dengan jeratan extractive economic institutions dan extractive political institutions. Dalam keadaan demikian, kekuatan ekonomi dan politik terkonsentrasi di tangan segelintir orang, yang leluasa tanpa kendala berarti “merampok” kekayaan nasional lewat lisensi maupun merebutnya dari pihak lain. Untuk meredamnya, tidak ada pilihan lain kecuali mewujudkan inclusive economic institutions dan inclusive political institutions, yang memungkinkan partisipasi dan akses luas masyarakat atas sumber daya produktif, fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Persoalan institusi inilah yang ditengarai membuat trend pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami pelemahan sebagaimana tampak pada garis hitam melengkung pada peraga di atas. Perekonomian kelihatan kehilangan tenaga…

View original 1.081 more words

Phoneography and Non-SLR Digital Photo Challenge: B/W, Street, and Travel

It’s been a while since the last time I posted the challenges. Now I am back with three themes in one posting :)

Black and White, Street Photography (washing car), and Travel.

The Black and White pic was taken when I was inside a train car heading home.
The washing car pic was taken from inside my car when someone was washing mine from outside. It was washed using machine and also manual :)
The travel pic was taken using Samsung Galaxy S4 using dramatic mode on, to capture motions from a moving object.

Hope you like it.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Do’a Berbuka Puasa Yang Shahih dan Yang Dha’if

Originally posted on Blog Abu Umamah™:

Pertanyaan: Assalamualaiku, Ustadz

1. Dari Ibnu Abbas, ia berkata : “Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan: Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim.” (artinya: Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan atas rezeki dari-Mu kami berbuka. Ya Allah! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). (Riwayat Daruqutni di kitab Sunan-nya, Ibnu Sunni di kitabnya ‘Amal Yaum wa- Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir).

View original 1.170 more words

Weekly Photo Challenge: Room, Extra, Extra, and Between

Being occupied by Hearthstone and working load at office made me miss the challenges. Now with this posting, I put all of the last three challenges here.

First, the Room challenge. I took this pantry room at Microsoft Singapore. Great for lunch at office :)

Room

Room

Compare your pantry room for lunch at office with it :)

Second challenge is Extra, Extra – share a photo that has a little something extra: an unexpected visitor, or a tranquil landscape with a splash of color. A lone carrot in a sea of peas. Draw us in with a humorous detail, or find a photo with an added element that makes it an image only you could capture.

I present you, a portrait of a woman. With an extra, a baby inside :)

Extra, Extra

Extra, Extra

The latest challenge is Between. The picture was taken today itself, during a family gathering among us at University of Indonesia, next to the lake. The picture showing a girl between her sisters.

In Between

In Between

 

“Marketingnya Jokowi Payah!”

wisnuwidiarta:

Tulisan menarik dari pakar marketing. Mari disimak.

Originally posted on The Laughing Phoenix:

Sebagai pelaku dunia advertising, namanya iklan dan kampanye merek apa aja pasti dlilihatin dan dibahas. Bahkan iklan Mastin sekalipun, walaupun akibatnya jingle sialan itu nempel di kepala (“KABAR GEMBIRA UNTUK KITA SEMUA…KULIT MANGGIS, KINI ADA EKSTRAKNYAAAA….” Aaaaaaaargghhh!!!) Kampanye capres pun tidak luput dari perhatian gw. Dan salah satu yang bikin gemes adalah kampanye capres Jokowi-JK. Kenapa?

Karena menurut gw kampanye Jokowi-JK BERANTAKAN BANGET.

Gw melihat bentuk kampanye Jokowi, entah itu di TV atau media sosial, seperti gak berpola. Hestek aja macem2, gak ada satu yang dominan. Ada #JokowiAdalahKita, ada #SalamDuaJari, #RevolusiMental, #JKW4P, #JokowiDay, dll, dll. Heran, hestek aja gak bisa seragam, harus macem2. Begitu juga dengan organisasi relawan, gak karu2an rasanya. Ada Kawan Jokowi, ada JANGKAR, ada Generasi Optimis, Bara JP, dll, dll.

Website pun acakadul. Ada jokowicenter.com, ada gerakcepat.com, ada faktajokowi.com, dan masih banyak lagi. Dan sampai sekarang gw gak tahu yang mana akun Twitter resmi Jokowi-JK yang harus…

View original 754 more words

Phoneography and Non-SLR Digital Photo Challenge: Nature (In the Mountain)

The first Monday’s challenge in June is Nature.

Imagine you were walking on a mountain… 5 degree Celsius of temp. Not many people you see around you. Only plants, rock, and skies. It is always a great place for such a contemplation. Thinking about God, universe, and the life itself..

 

Nature

Nature

Weekly Photo Challenge: Split-Second Story

The last weekly photo challenge in May 2014 was this.

For this week’s challenge, we want you to become a documentary photographer and attempt to capture a candid moment of a person, place, or thing. Put your National Geographic hat on and tell a story by documenting a moment in time through a single image.

This picture was taken using my Canon 550D when I went camping to Ciwidey this year. In early morning I grabbed my camera and start exploring the camp area and stumbled upon this man with his daughter. His little girl was trying to learn to walk that time. All I could see is love… from a man to his daughter..

Learning to Walk

Learning to Walk